Karena sejatinya bergantung dan meminta tolonglah hanya pada Allah SWT :)
Jadi kemarin saya dapet tawaran order wedding decoration di daerah Putri Duyung Ancol. Properti yang dibawa lumayan banyak, terutama ada photo booth sebesar 3mx2m yang sebenarnya di bapak pick up pertama dia menyerah membawa papan sebesar itu. Akhirnya dapet pick up dengan harga Alhamdulillah dibanding tawaran pick up sebelumnya dari Mulki (pick up yang biasa dipake untuk aksi).
Nah, karena kita bertiga (saya, Ajeng dan Bello) gak mungkin kita bisa duduk di kursi depan sebelah supir, kan jadi berempat klo begitu alamt akan ditilang besar-besaran sama polisi klo ada razia. Sehingga dua teman saya harus duduk dibelakang atau naik kendaran umum atau ada mobil lain. Alhamdulillah staf saya, Adit, ternyata lagi ada mobil dikosannya, dan menawarkan mengantarkan. Sudah sangat senang, cuma tinggal bayar bensin. Kemudia sekitar jam12an (kami berencana berangkat jam2 dari Depok), adit menelpon tidak bisa ikut karena ada yang harus dilakukan. *Jedar*
Alhamdulillahnya, Adit meminjamkan mobilnya sehingga kita tinggal mencari yang mau disupirin. Pikir punya pikir, siapa temen yang baik hati dan ingin dimintai tolong. Ada beberapa nama yang terpikir :
1. Fikri, tapi kayaknya gak bisa, kan sekarang hari sabtu dan dia pasti ingin macar
2. Sapto, gak mungkin, dia dan anak psiko yang lain lagi di Sawarna. Opsi anak psiko yang lain gugur
3. Pepe, kemungkinan besar bisa, karena dia meskipun weekend jarang ngegahul
Akhirnya menghubungilah Pepe dengan kata-kata, “meminta tolong sangat”. Dan Pepe juga gak bisa karena ada liqo. *jedar* *jedar* *jedar*
Sebenarnya agak kesel dengan alasan Pepe yang mau liqo, karena menurut saya, saya urgent banget minta tolongnya. Kan dahulu kala zaman pemira BEM dan MWA kayanya saya segitunya meluangkan waktu jika dimintai tolong (nampaknya mulai pamrih). Tapi tetep dia mau liqo. Dia memberi alternatif solusi, namun gak make sense bagi saya. Jadi gak saya ikutin.
Pusing banged saat itu. Gak mungkin kan dua wanita yang ikut sama saya itu say biarkan naik pick up di belakang dari Depok ke Ancol? Pun jikalau naik angkutan umum pasti sampainya beda, jadi lebih lama, nanti main tunggu-tungguan. Akhirnya pasrahkan saja sama Allah, dan berharap bapak pick up punya solusi yang bisa dilakukan.
Setelah naikin barang ke pick up dan bilang ada dua orang yang duduk di belakang, kita semua siap berangkat. Namun dalam hati saya was-was dan gak tega. Trus bapak pick up-nya bilang, “udah neng, semua aja duduk di depan, gak tega saya”. Saya, “tapi nanti ditilang pak?”. Bapak, “Udah tenang aja”.
Keyakinan bapak pick up menurut saya adalah pertolongan yang diberikan Allah kepada saya. Yah bukan pertolongan berupa teman yang mau berbaik hati mengantarkan kami, tapi pertolongan berupa solusi dari bapak pick up. Selain itu kemudahan yang kami lalui selama perjalanan ke Ancol. Kami tidak masuk tol (karena pasti tidak boleh lewat) namun Alhamdulillah tidak bertemu jalan macet yang terlalu lama.Kami melalui jalan besar, namun tidak bertemu razia polisi. Dan segala kmudahan dan kelancaran lainnya yang sungguh tak terduga.
Yah karena kejadian tersebut, saya semakin tidak ingin bergantung sama teman atau siapapun. Sebaik apapun mereka, ada saat dimana mereka tidak bisa selalu menolong kita. Dan saat kita sudah tidak tau lagi harus meminta tolong kepada siapa, hanya pada Allah lah kita memasrahkan semuanya.
Emang Allah tuh JUARA banged, Always need your help Ya Allah :)
-
isnidalimunthe said:
Alhamdulillah :”) oh iya (bukan mau belain pepe), tapi based on pengalaman ai, liqo itu memang sesuatu yang berat rasanya untuk ditinggalkan apalagi meninggakannya utk hal duniawi rin, hehe, jadi maklum aja pepe gabisa ninggalin liqonya, semangat! :)
-
rinisetia posted this