Klo emang rejeki mah gak kemana, klo “jodoh” ya gak kemana2, hehe
Jumat siang kemarin, diundang kakak Feby untuk mengobrol ria dengan mama ikan Isni. Beliau menceritakan keadaan akademisnya (bukan ini poin ceritanya). Kita bertemu di Fasilkom. Ada bertemu banyak sekali orang, anak fasilkom tentunya, bahkan ada Haryo dan Ijul juga yang ngomongin politik kampus di kandang orang, hehe.
Di fakultas ini ada seseorang yang sering menyeruak di pikiran saya, hehe. Namun saya tidak berniat untuk bertemu atau mencarinya, sungguh. Lalu saat mengorbol, saya melihatnya dari kejauhan, dan kemudian disapa oleh Haryo&Ijul. Dia tidak datang menghampiri, mungkin sedang pusing dengan tugas yang sedang dikerjakan. Lalu saya shalat di lantai 2, niatnya mau shalat di stasiun aja sekalian pulang. Entah kenapa jadi mau shalat disini. Pas naik tangga, dari arah yang bisa melihat para lelaki yang sedang shalat, saya kembali melihatnya sedang akan shalat. Lalu saya shalat, selapas shalat tidak bertemu dengannya. Mungkin cuma diberi nikamat bertemu saja dengannya.
Lalu saya ijin pulang dengan anak-anak fasilkom lainnya. Keluar mengarah ke Perpus Pusat, lalu bertemu dengannya lagi. Kali ini tidak hanya melihat dari jauh, namun juga menyapa dan mengobrol. Dia menceritakan keadaan dia sekarang dan sebagainya. Saya menjadi yakin, memang jika Allah sudah berkehendak kami bertemu, akan dipertemukan. Meski awalnya saya tidak berniat bertemu. Alhamdulillah.
Nah, yang kedua adalah tentang rezeki. Setelah mengobrol dengannya, saya menuju pulang. Kemudian bertemu dengan Feby & Ikhma lagi. Dan kita memutuskan untuk nonton Madagascar. Random memang. Ikhma yang membawa motor berangkat dengan motornya, dan saya Feby memilih naik bikun saja dari halte FH. Setelah melalui FH, kami melihat ada bikun yang akan segera tiba di halte FH, dan kami rasa kami akan bisa menaikinya. Lalu kami berlari dengan sangat kencang, sungguh, menuju depan halte FH. Meskipun sudah sangat kencang dan saya merasa bikun berhenti cukup lama. Saat kami tiba di halte FH, pas sekali bikun pun berangkat. Yah kami tidak bisa naik bikun dan harus naik angkot (kembali jalan dan harus mengeluarkan uang). Meskipun kami sudah sangat berlari kencang, berikhtiar maksimal, namun jika memang bukan rezeki kami bisa naik bikun, mau dikata apa. Jika Allah sudah berkehendak, beginilah. Teringat kata-kata kakak Feby “Bukan rezeki kita, tapi rezeki tukang angkotnya”. Semoga berkah ya bapak supir angkot :)
1 Notes/ Hide
-
luqmansyauqi said:
Ciye… Yg di fasilkom **** ******** ***** XD
-
rinisetia posted this

